Akhirnya saya menyelesaikan pembacaan novel yang berjudul “Hafalan Shalat Delisa” karya Tere Liye.  Untuk menyelesaikan bacaan ini pun, ada beberapa tahapan.  Pertama saya membaca di internet sampai halaman 28, lalu satu bulan kemudian saya ke gramed depok meneruskan untuk membacanya sampai halaman 171.  Dan finally, seminggu kemudian pada hari jum’at tanggal 25 februari 2011, saya pun menyelesaikan bacaan novel ini.
            Ketika awal membaca, tidak ada rasa kesedihan dalam novel ini bahkan sangat menyenangkan, sampai-sampai saya senyum sendiri membacanya karena karakter delisa yang sangat menggemaskan dan selalu ingin tahu.  Barulah ketika saya membaca di gramed, saya benar-benar tidak bisa menahan air mata.  Bayangkan anak berusia 6 tahun harus kehilangan keluarganya dan dia pun menjadi dewasa sebelum waktunya, lebih memahami makna ikhlas. Ikhlas untuk menerima keadaan, dan yang terpenting ikhlas untuk menghafal hafalan shalatnya.  Anak sekecil itu menahan rasa kehilangan demi menjaga perasaan abinya.
           
Delisa juga kehilangan kakinya pasca kejadian Tsunami di Nangro Aceh Darussalam tepatnya di Lhok Nga kejadian yang menimpa Delisa pada tanggal 26 desember 2004.  Hafalan shalatnya pun hilang dari ingatannya dan juga semua kejadian yang berhubungan dengan shalat dan kalung.  Pada tanggal 26 desembar 2004 adalah hari dimana delisa harus menyetorkan hafalan shalatnya kepada Ibu Guru Nur.  Bukan hanya delisa yang harus menyetorkan hafalannya tetapi teman-teman sekelasnya pun juga harus menyetorkan hafalan shalatnya.
            Delisa dijanjikan oleh umi(ibu) kalau dia hafal bacaan shalat tersebut, delisa akan diberikan kalung berinisial D untuk Delisa.  Abi(ayah) pun menjajikan sepeda kepada delisa.  Abinya bekerja di kapal dan 3 bulan sekali baru pulang.  Delisa sangat menginginkan kalung itu, makanya delisa semangat untuk menghafalkan bacaan shalat itu. 
            Delisa mempunyai 3 kakak perempuan, kakak sulungnya bernama Cut Fatimah, lalu kakak kedua dan ketiganya kembar bernama Cut Zahra dan Cut Aisyah.  Karakter Fatimah sangat mengayomi adik-adiknya dan dia suka dengan sastra.  Zahra orang yang pendiam dan banyak ide-ide dalam pikirannya.  Aisyah adalah kakak yang paling jahil dan suka bertengkar dengan delisa.  Aisyah juga iri ketika umi membelikan kalung yang berinisial D untuk Delisa.  Padahal umi juga melakukan hal yang sama pada anak-anaknya ketika mereka hafal bacaan shalat yaitu memberikan kalung.  Ynag membuat iri Aisyah karena kalung delisa memiliki inisial tetapi aisyah pun reda marahnya ketika umi menasehatinya.
            Fatimah sudah SMA sedangkan Zahra dan aisyah SMP.  Sehari sebelum kejadian Tsunami, ketika shalat subuh.  Delisa tiba-tiba memeluk leher umi dari belakang dan berkata ‘Delisa sayang umi karena Allah’ ,  ketiga kakaknya dan umi heran dengan sikap delisa yang tidak biasanya.  Umi melihat mata delisa yang hijau penuh dengan ketulusan, umi pun meneteskan air mata dan berkata ‘Umi juga sayang delisa karena Allah’.  Subhanallah, kata-kata yang indah ketika yang berucap mengatakannya dari dalam hati dan penuh dengan ketulusan.  Lalu kakaknya pun ikut memeluk umi dan delisa.
            Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan delisa kepada umi.  Tetapi disamping itu ketika hafalan shalatnya hilang, delisa mencoba untuk menghafal lagi tetapi sangat sulit untuk delisa.  Ketika dia ingin menghafal bacaan shalat semata-mata karena Allah, Allah pun memberikan kemudahan.  Hanya dalam waktu seminggu delisa sudah hafal semuanya. Subhanallah. Atas kehendak-Nyalah itu dapat terjadi.  Catatan-catatan kaki pada novel ini membuat saya ingin menjadi lebih baik dari sebelumya. Insya Allah. 
            Tere Liye sang penulis pun ketika menulis novelnya, dia tidak bisa menahan tangisnya.  Saya acungkan jempol kepada orang yang tidak menangis ketika membaca novel ini.