Hari ini aku akan tes tertulis.  Tapi sebelum tes tertulis, kita yang mengikuti tes dibagi beberapa kelompok.  Lalu dari kelasku, aku mendapat sesi pertama.  Ketika masuk ke ruangan, ternyata bukan tes tertulis.  Di kelompokku ada 5 orang, tiga diantaranya mahasiswa/i Kalimalang.  Lalu aku dan satu perempuan dari Depok.  Dari Kalimalang, dua laki-laki, satu perempuan.  Lalu kita berhadapan dengan 4 kakak aslab.  Kakak-kakaknya semua perempuan.    Salah satu dari kakak asleb itu, memberikan penjelasan apa yang harus kita lakukan.  Ternyata kita seperti tes simulasi.  Kakaknya akan mengajukan beberapa pertanyaan, lalu ketika kita sekiranya ingin menjawab, kita tunjuk tangan dan kalau teman kita sudah menjawab apa yang sama dengan pikiran kita, tidak perlu menjawab kecuali mempunya jawaban yang berbeda atau penambahan.
Lalu dimulailah pertanyaan, ketika tunjuk tangan, ada yang lebih dulu dariku dan jawabannya sama denganku.  Lalu beberapa pertanyaan silih berganti.  Akhirnya giliranku menjawab setelah mahasiswa laki-laki menjawab.  Aku menjawab berbeda dari laki-laki itu.  Pertanyaannya adalah Aapa yang Anda lakukan, bila misal Anda sudah menjadi aslab, lalu ada praktikkan yang terlambat 1 jam dan dia memaksa masuk dan alasan keterlambatannya dikarenakan temannya pingsan dan dia harus mengantar temannya terlebih dahulu.  Mahasiswa dari kalimalang itu menjawab akan memeberikan praktikkan tersebut masuk.  Lalu kakaknya member pertanyaan lagi.  Tapi kan sudah satu jam dan batas keterlambatan hanya 10 menit.  Dia menjawab kembali, karena dia memposisikan dirinya sebagai praktikan, otomatis kalau temannya pingsan, harus dibantu dulu makanya itu adalah sebuah alas an yang kuat.
Lalu aku mempunyai pendapat yang berbeda.  Kalau aku misal menjadi aslab, yang akan aku lakukan adalah memeberikan pengertian kepadanya untuk mengikuti shift selanjutnya.  Karena kasihan praktikkan tersebut.  Praktikum biasanya belajar efektif satu setengah jam bahkan kurang, nah ketika keterlambatannya satu jam, dia hanya memiliki waktu setengah jam untuk praktikum.  Kemungkinan dia nantinya tidak terlalu paham dengan materi saat itu.  Itulah jawabanku.  Lalu pertanyaan lain diajukan.  Silih berganti yang lainnya menjawab dan kami semuanya kebagian menjawab.  Lalu setelah selesai, kami keluar dan menunggu beberapa saat untuk pengumuman.
Sekitar 10 menit 2 lembar kertas ditempel di madding, pengumuman lolos tidaknya pada tahap selanjutnya.  Karena sangat ramai, aku jadi duduk dan ngobrol-ngobrol dulu dengan teman sekelasku.  Setelah lumayan sepi, aku melihat, Alhamdulillah aku lolos.  Tapi mahasiswa yang dari Depok yang sekelompok denganku menangis, aku bingung, lalu aku bertanya pada temannya, ternyata dia tidak lolos.  Jadi dari kelompokku, dia tidak lolos.  Karena masing-masing dalam satu kelompok, tereliminasi 1 orang.  Rani, temanku juga lolos ke tahap selanjutnya.
Selanjutnya  teman sekelasku Irun. Lita, dan Deasy masuk untuk tes.  Irun dan Lita satu kelompok.  Lalu setelah mereka keluar.  Beberapa saat yang tadi tes simulasi pertama disuruh masuk untuk mengikuti tes tertulis.  Tes tertulis tersebut selama 70 menit.  Ada 7 lembar soal yang berbeda-beda.  Ada matek 1, matek 2, statistika 1, statistika 2, matematika dasar, bahasa inggris, dan tes menggambar(IQ).  Masing-masing setiap sesinya diberi waktu 10 menit, dimulai dari matek 1 sampai yang terakhir tes menggambar(IQ).  Setiap sesi ada 100 soal, kita disuruh mengerjakan yang menurutk kita mudah.  Dan setiap kesalahan, point akan dikurangi 1.  Kata kakaknya minimal setiap sesi kita mengerjakan 15 soal.
Tes tersebut selesai 5 menit sebelum zuhur.  Ketika aku keluar, aku tidak melihat deasy, lalu aku bertanya kepada irun dan lita, katanya deasy tidak lolos ditahap simulasi.  Lalu aku dan rani pergi ke masjid untuk solat.  Lalu kita bertemu seorang teman, dia bertanya tentang soal ekonomi makro, lalu dijelaskan sebentar.  Besok adalah ujian tentang ekonomi makro.  Setelah selesai, aku mengajak Rani untuk makan terlebih dahulu karena aku sangat lapar pada saat itu.  Lebih baik, makan memikirkan solat daripada solat memikirkan makan. Hhehehe
Setelah makan, aku dan Rani ke masjid untuk solat.  Setelah solat, aku dan Rani mengobrol.  Kita tidak langsung ke ruang madas lagi karena kemungkinan pengumuman belum keluar.  Sekitar setengah tiga, aku dan Rani ke ruangan depan madas.  Kita bertemu Irun dan Lita, dia mau solat.  Beberapa menit kemudian azan berkumandang, aku dan Rani balik ke masjid untuk solat ashar.  Kita bertemu Irun dan Lita, mereka sudah selesai solat dan mau balik lagi ke ruang depan madas.  Lalu aku bilang ke mereka, kalau pengumumannya sudah keluar, tolong sms-in aku.  Jadi ketika selesai solat, aku dan Rani tetap di masjid.
 Sekitar jam 4, aku dan Rani balik lagi ke ruang depan madas.  Tapi ditangga gedung 5 lantai 3, kita bertemu Tika, teman aku dan Rani.  Dia sedang duduk di tangga.  Lalu kita bertiga mengobrol.  Sekitar 10 menit kita ngobrol, pengumuman keluar, aku dan Rani tetap duduk, lalu Tika melihat pengumuman.  Dia menyalami kita, dan dia pamitan.  Katanya dia tidak lolos, lalu aku dan Rani katanya lolos.  Lalu aku dan Rani barulah berdiri dan melihat pengumumannya.  Ternyata alahamdulillah lolos.  Aku, Rani, Irun, Lita, dan Isti teman satu BEM Lita juga masuk.
Lalu kami pulang karena besok ada UTS Teori Ekonomi.  Pengumuman untuk tes selanjutnya, nanti akan dihubungi.  Lalu ada sms, bahwa ada tes wawancara staf, itu tes diadakan ketika sehari sebelum UAS statitiska2.  Jam 10 disuruh datang ke kampus G gedung 1.  Ternyata ada tes lagi yaitu disuruh buat soal tentang statistika 1 dan 2.  Waktu 10 menit.  Minimal 2 soal teori dan 1 itung-itungan.  Setelah selesai, tes selanjutnya mengetik sebuah tulisan di word dan excel.  Lalu setelah itu istirahat dulu.  Kami pun solat dulu setelah itu tes wawancara.
Setelah semuanya selesai, kami semua pulang.  Dan ketika aku sampai rumah, aku merebahkan badanku sejenak.  Sekitar jam 5-an, lita sms aku, katanya dia menerima sms bahwa besok dia disuruh membawa materai.  Aku dan Rani tidak menerima sms, mungkin aku dan Rani tidak lolos.  Setelah besoknya, aku ujian statitiska dan ada sms dari nomor tidak dikenal ketika aku selesai ujian.  Di hp-ku, sms itu tidak bisa dibuka, mungkin karena teksnya terlalu panjang, jadi susah untuk terbuka.  HP-ku memang rada eror.  Lalu aku bertanya kepada irun, “ini no madas bukan?”.  Ternyata ia, lalu sekitar 30 menit sms itu terbuka dan isinya mengatakan kurang lebihnya bahwa terima kasih sudah mengikuti tes aslabmadas dan Anda tidak lolos, silahkan coba lagi di tahun depan.  Mungkin itu buka suatu hal yang baik buatku.  Mungkin Allah akan memberikan yang lebih baik untukku.  Ini aku jadikan sebagai pengalaman berharga untukku dan juga pelajaran untuk membentuk mentalku.




Disini aku ingin bercerita pengalamanku mengikuti tes menjadi asisten laboratorium manajemen dasar.  Alhamdulillah tahapan administrasi lolos, lalu selanjutnya mengisi biodata tentang diri dan pertanyaan-pertanyaan semisal menjadi aslab, bagaimanakah komitmen kita.  Pada hari senin, tepatnya 2 hari sebelum uts (hari tenang), adalah jadwal tes yang pertama yaitu tutorial dan wawancara.  Dikelasku yang mengikuti tes tersebut yaitu Irun, Lita, Deasy, dan Ancela.  Tetapi Ancela tidak mengikuti tes tersebut.  Sekitar jam 9, tes dimulai.  Pada saat itu aku sangat deg-degan, karena ini merupakan hal yang baru untukku.  Dari kelasanku, aku dipanggil yang paling akhir, jadi sebelum dipanggil, aku beranya-tanya kepada yang lain, bagaimana perasaannya dan suasana ketika tutor.
Lalu tiba waktunya aku dipanggil, aku sangat deg-degan.  Aku harus tutor di meja nomor 1, dipaling depan.  Disana ada 4 kakak asisten lab yang berpura-pura menjadi praktikan.  Dari 4 kakak asisten lab tersebut, aku hanya kenal 1 orang yaitu kak Agung, karena dulu kak Agung adalah Tutorku di kelas 1EB12.  Disana kak Agung, laki-laki sendiri.  Sebelum memulai untuk tutor, kak Agung menjelaskan bahwa waktu untuk tutor selama 10 menit.  Aku memulai dengan perkenalan diri dan menjelaskan tentang materi Break Even Point (BEP).  Ketika aku menjelaskan, salah satu kakak Asleb, ada yang selalu bertanya, lalu ada yang telefon-telefonan, ada yag tukang ngadu, ada yang senyum-senyum.  Disana kita diuji, bagaimana cara kita mengendalikan para praktikan.
Setelah tes tertulis, dilanjutkan tes wawancara dengan kakak aslebnya.  Lagi-lagi aku di meja yang paling depan.  Disana ada 5 kakak asleb, semuanya perempuan.  Diantara 5 kakak asleb tersebut, ada 1 kakak asleb yang baik banget.  Dia berkerudung dan cantik.  Sebelum tes dimulai, yang lolos dalam tahapan administrasi, sebelumnya harus membuat modul tentang materi yang sudah dibagi-bagi.  Nah aku mencari sumber tersebut di perpustakaan kampus H.  Ketika aku mencari-cari, aku bertemu teman sekelasku yaitu Rio dan Steven.  Mereka ingin mencari buku  Lembaga Keuangan.  Lalu aku membuat kesepakatan dengan mereka, aku mencari 2 buku Lembaga Keuangan ubtuk mereka, sedangkan Mereka mencari buku yang masih berhubungan dengan Break Even Point (BEP).  Nah, disana aku bertemu dengan kakak yang baik dan cantik itu, dia menghampiriku dan memberikan aku referensi buku untuk pembuatan modul.  Aku sangat berterima kasih kepada kakak yang baik itu.
Lalu ketika wawancara, aku disuruh perkenalkan diriku dalam bahasa Inggris.  Di dalam hatiku sedikit kaget, karena sebelumnya aku bertanya-tanya pada temanku, mereka  semua memperkenalkan dirinya dalam bahasa Indonesia.  Lalu aku memulai dengan salam dilanjutkan dengan “My name is Sarlinda”.  Sebelum aku melanjutkannya, ada kakak disebelah kananku memotong dan mengatakan, “ Apa, My name is???”.  Aku menjadi sedikit takut dan ragu, kkarena tatapan mata kakak  itu sngat tajam.  Lalu aku langsung menjawab dengan muka sok diyakin-yakinkan. “Iya kak, My name is.  Lalu My nick name is Linda.  My class 2EB01.  Lalu aku bertanya keada kakaknya, “apalagi kak?”.  Kakaknya menjawab “aktifitasnya/hobby”.  Lalu aku bilang, “watching, reading, teaching”.  Lalu aku mulai itanya-tanya.  Mereka bertanya 3 kelebihan dan kelemahanku.  Lalu aku menjawabnya.
Setelah aku mengatakan kelemahan-kelemahanku, kakak yang baik itu memberikan solusinya.  Dan ada kelemahanku yang mirip dengan kakak itu.  Dianttara berlima, aku terfokus melihat kakak itu, karena kakak-kakak yang lain mukanya tidak ”welcome” terhadapku.  Aku lebih terfokus melihat kakak yang baik itu, karena aku ingin membuat hatiku merasa tenang.  Walaupun lebih terfokus oleh kakak itu, tapi aku tetap memandang yang lain.  Aku sangat berterima kasih dengan kakak yang baik itu, karena biasanya ketika kita mengatakan kelamahan kita, pewawancara malah mengintimidasi atau memojokkan kita.  Selain itu ditanyakan aktifitas kita dan tentang berita umum yang ada di Indonesia yang aku ketahui.
Setelah itu aku keluar dan langsung bertanya pada temanku tentang My name is, apakah dalam pernyataanku tadi ada yang salah.  Kata temanku benar.  Mungkin kakak itu ingin mengetes mentalku.  Sekitar jam 4 sore, pengumuman lolos atau   idaknya ke tahap selanjutya diteempel di mading.  Alhamdulillah aku, semua temen sekelasku dan Rani (Teman satu organisasi), lolos ke tahap selanjutnya.  Besok harus mengikuti tes tertulis, harus datang sekitar jam setengah 8.
  


Walaupun kami sedikit berselisih kemarin
Hari ini, kami tertawa dan berpelukan satu sama lain
Mari membuat janji
Kamu adalah sahabat terbaikku

Jika kamu kesulitan
Jangan disimpa sendiri
Tetapi berbagi satu sama lain.  Janji padaku satu kali lagi

Ketika kamu tertawa, aku ikut bahagia
Ketika kamu sedih, mataku ikut menangis

Hanya kamu temanku di dunia ini
Kamu kebahagiaanku
Dan aku akan menjaga hal yang paling berharga ini
Aku berjanji
Aku sayang temanku

Aku akan menjadi kekuatanmu
Aku akan selalu menjadi teman terbaikmu

Jika kamu menenemukan film bagus, lagu
Atau pria yang baik, mari bercerita satu sama lain
Ayo buat janji bersama
Mari kita saling berbagi
Membeli makanan satu sama lain
Mari membuat janji dengan kelingking kami

Untukku, ketika kamu tidak disini, aku benar-benar merasa sendiri
Untukku, ketika kamu sakit, Aku tidak bisa tidur.  Aku cemas tentang kamu

Hanya kamu temanku di dunia ini
Kamu kebahagiaanku
Dan aku akan menjaga hal yang paling berharga ini
Aku berjanji
Aku sayang temanku
Kamu dalam kehidupan selanjutnya adalah temanku
Kamu adalah permataku. Keajaibanku
Aku akan menjaga hatiku
Satu lagi, aku berjanji
Aku sayang temanku

Dengan kepercayaan dan pegangan yang kuat.  Tidak ada persoalan yang membuatku takut
Kata persahabatan terdengar kaku, tetapi aku berpikir itulah yang dapat menggambarkan kami
Temanku

Kami membuat nama panggilan satu sama lain dan bermain di sekitar
Kadang-kadang, kami berbagi baju dingin kami
Nomormu ada di panggilan tercepatku
Kamu akan selalu menjadi teman terbaikku
Selamanya kamu adalah temanku
Kamu adalah satu untukku, temanku







Aku merasa lelah hari ini
Saat aku sendiri di dalam kamar memeluk bantal
Kugenggam telepon dalam gelisah, saat hatiku
Entah mengapa terasa hampa

aku takut oleh dering telepon yang tiba-tiba
suara cemas ibuku bertanya apakah aku sudah makan
walau kadang menyebalkan, hari ini kata-kata itu terasa berbeda
Janji-janji yang aku lupakan muncul kembali


Aku akan menjadi orang berhati mulia
Dan menjadi orang yang mengutamakan orang lain
Akan kuwujudkan harapan cintamu
yang berbagi impian bersamaku
Aku ingat ibu yang dulu menyisir rambutku

Walau aku pernah menyakitimu dengan perbuatanku yang salah
Tanpa kata kau terus melindungiku dari belakang
walau masih kecil dan kaku, kini aku paham
Arti doa dalam diam ibu

Aku akan menjadi orang berhati mulia
Dan menjadi orang yang mengutamakan orang lain
Akan kuwujudkan harapan cintamu
yang berbagi impian bersamaku
Aku ingat ibu yang dulu menyisir rambutku
Harus bagaimana, hatiku yang masih kecil
walau sendiri lepas dari tanganmu, aku pasti bisa
Kupersembahkan padamu, walau belum sempurna

Aku akan menjadi putrimu yang pengertian
Keberanian yang kau berikan padaku
Dimanapun, aku akan menjadi putri yang membanggakan

Akan kuwujudkan harapan cintamu
Dengan segala cinta yang kau tunjukkan
Hatiku yang menjadi hangat
Aku begitu malu untuk mengutarakannya
Ibu betapa aku mencintaimu...

Apakah di Indonesia sudah terlaksana undang-undang tentang perlindungan konsumen?

            Sebelum membahas hal tersebut, baiknya kita harus mengetahui terlebih dahulu hak-hak konsumen dan untuk menambah wawasan, lebih baik lagi bila dicantumkan kewajibannya pula.  Berikut adalah Hak Dan Kewajiban Konsumen menurut UU RI No.8 Tahun.1999 Tentang Perlindungan Konsumen :
Pasal 4
Hak Konsumen adalah :
a. hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan / atau jasa;
b. hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
c. hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;
d. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;
e. hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;
f. hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
g. hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
h. hak untuk mendapatkann kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
i. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Pasal 5
Kewajiban Konsumen adalah :
a. membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;
b. beritikat baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;
c. membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;
d. mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.
            Diatas telah dijelaskan hak-hak dan kewajiban konsumen.  Tetapi kenyataannya di Indonesia hak-hak konsumen belum terpenuhi.  Banyak kasus-kasus yang merugikan pihak konsumen.   Salah satu hak konsumen yaitu  hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif, nyatanya bertolak belakang dengan kejadian konsumen-konsumen yang menggunakan jasa di rumah sakit.  Misalnya saja terjadi kecelakaan, pihak korban tentunya sangat membutuhkan pelayanan yang cepat, dikarenakan hal tersebut merupakan kondisi darurat dan menyangkut nyawa seorang manusia.  Tapi kenyataannya, peraturan-peraturan rumah sakit membuat seorang korban, lama untuk ditangani secara cepat.  Padahal kebutuhan korban sangat darurat.  Pelayanan tersebut lebih mengenai hal administrasi rumah sakit.  Bila seorang korban bukan dari kalangan yang berada, tentunya tidak mudah mendapatkan uang cepat untuk perawatan atau layanan di rumah sakit.  Itu membuktikan diskriminatif terhadap orang yang berada atau tidaknya.  Apakah tidak bisa, prosedur di rumah sakit lebih mementingkan nyawa seseorang daripada prosedur tentang hal keuangan.  Banyak kejadian-kejadian yang mungkin kita lihat di sekitar kita tentang hal pelayanan yang lebih mementingkan prosedur tentang administrasi dan banyak manusia tidak tertolong karena tidak diambil tindakan cepat oleh pihak rumah sakit. 
            Padahal di Undang-Undang sudah dijelaskan tentang hak-hak konsumen, undang-undang ini diberlakukan tentunya untuk melindungi para konsumen tetapi masih saja, hukum di Indonesia hanya sebagai formalitas, tidak ditindaki secara nyata.  Apakah pernyataan tentang peraturan dibuat untuk dilanggar itu benar.  Tentunya kita semua, tidak berharap seperti itu bukan?.  Bukankah peraturan dibuat untuk kenyamanan dan kesejahteraan bersama?.  Mari dari hal-hal kecil sedikit demi sedikit kita merubah hal itu!.
            Banyak konsumen dirugikan karena sebuah pernyataan ‘tentang peraturan dibuat untuk dilanggar’ karena hal tersebut sudah tertanam di alam sadar/bawah sadar sebagian manusia.  Contoh-contoh lainnya juga terdapat dalam hal produk bank.  Nasabah bank juga termasuk dalam kategori hak-hak nasabahnya (konsumen) dilindungi oleh undang-undang.  Seharusnya nasabah perbankan berhak mendapatkan ganti rugi atas produk bank yang dinilai merugikan.  Jika terjadi kerugian yang dialami nasabah, di dalam UU Perlindungan Konsumen, kewajiban pembuktian terletak pada pelaku usaha, bukan konsumen.  Tetapi kenyataannya konsumen diposisikan sebagai pihak yang lemah, sedangkan perbankan di pihak yang kuat, karena mempunyai standar operasi yang dilakukan masing-masing bank.
            Keberadaan UU Perlindungan Konsumen itu yang saat ini belum banyak disadari oleh konsumen.  Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) juga banyak menerima pengaduan terkait produk perbankan. Menurut pengurus YLKI, Indah Sukmaningsih, kasus yang paling banyak dilaporkan adalah perhitungan bunga kredit. Indah mengatakan, bunga kartu kredit hampir sama dengan bunga lintah darat yang dilegalkan. Sementara itu, kasus terbanyak kedua yang diadukan konsumen terkait perlakuan oleh penagih utang atau debt collector.
            Banyak kasus-kasus di Indonesia yang nampaknya para konsumen tidak memahami/mengerti haknya.  Jadi tujuan undang-undang menegenai perlindungan konsumen nampaknya hanya angin lalu saja bagi para konsumen.  Harus ada sosialisasi mengenai hal ini kepada para konsumen.  Agar lebih memahami hal ini, ada baiknya kita mengetahui tujuan perlindungan konsumen.  Tujuan perlindungan konsumen meliputi :
1.      Meningkatkan kesadaran, kemampuan, dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri
2.      Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindari dari ekses negatif pemakaian barang dan/ atau jasa
3.      Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen
4.      Menetapkan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapat informasi
5.      Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen, sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha
6.      Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamana, dan keselamatan konsumen.

                Dengan adanya tujuan, pemerintah dapat memfokuskan perihal hal aturan-aturan/ undang-undang untuk dicapai.

SUMBER
Kartika Sari, Elsi & Simangunsong, Advendi. 2007. Hukum Dalam Ekonomi. Jakarta : PT. Grasindo